TUGAS TERSTRUKTUR 11
NAMA : LARISSA AMELIA (E05)
MATA KULIAH : KEWARGANEGARAAN
TUGAS : TERSTRUKTUR 11
Merancang Strategi Ketahanan Ideologi di Media Sosial sebagai Benteng Disintegrasi Bangsa
Pendahuluan
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat Indonesia berinteraksi, memperoleh informasi, dan membentuk opini. Ruang digital kini bukan hanya arena komunikasi, tetapi juga medan kontestasi ideologi. Dalam perspektif Astagatra, ketahanan ideologi termasuk dalam Trigatra (aspek non-fisik) yang sangat menentukan keutuhan bangsa. Lemahnya ketahanan ideologi berpotensi memicu disintegrasi melalui penyebaran paham ekstrem, hoaks, ujaran kebencian, dan delegitimasi nilai-nilai Pancasila. Saya memilih sektor ini karena media sosial menjadi ruang yang paling intens diakses generasi muda, sekaligus paling rentan dimasuki kepentingan yang bertentangan dengan jati diri bangsa. Penguatan ketahanan ideologi di media sosial menjadi urgen agar bangsa Indonesia tetap memiliki orientasi nilai yang sama di tengah derasnya arus global.
Analisis Ancaman
Terdapat setidaknya dua anasir disintegrasi yang paling memengaruhi ketahanan ideologi di media sosial saat ini.
Pertama, penetrasi ideologi transnasional dan radikalisme digital. Algoritma media sosial memungkinkan penyebaran konten ekstrem secara masif dan tersegmentasi. Paham yang bertentangan dengan Pancasila dapat menyusup melalui narasi keagamaan atau politik yang dikemas persuasif, sehingga memecah loyalitas ideologis masyarakat, khususnya generasi muda.
Kedua, polarisasi sosial akibat hoaks dan disinformasi. Informasi palsu yang diproduksi untuk kepentingan politik, ekonomi, maupun geopolitik luar negeri dapat memperuncing perbedaan identitas, memicu distrust terhadap negara, serta melemahkan kohesi sosial. Polarisasi ini berbahaya karena menggeser ideologi pemersatu menjadi ideologi sektarian.
Ketahanan ideologi di media sosial juga memiliki interdependensi kuat dengan gatra lain. Dari sisi Gatra Politik, lemahnya literasi ideologi memperburuk kualitas demokrasi digital, meningkatkan politik identitas, dan menurunkan legitimasi institusi negara. Sementara dari Gatra Ekonomi, dominasi platform asing membuat ekosistem digital Indonesia rentan terhadap intervensi algoritmik dan kepentingan global yang tidak selalu sejalan dengan nilai kebangsaan. Artinya, gangguan ideologi di media sosial tidak berdiri sendiri, melainkan memengaruhi stabilitas politik dan kemandirian ekonomi nasional.
Desain Strategi Simulatif
Nama Program:
“Gerakan Literasi Ideologi Digital (GLID)”
Tujuan:
Meningkatkan literasi ideologi dan kebangsaan generasi muda di ruang digital serta menurunkan paparan konten radikal dan disinformasi ideologis sebesar 30% dalam tiga tahun di lingkungan pendidikan dan komunitas pemuda.
Langkah Implementasi:
-
Integrasi Kurikulum Ideologi Digital
Menyusun modul literasi ideologi berbasis Pancasila yang diintegrasikan dalam mata kuliah kewarganegaraan dan program orientasi mahasiswa, dengan fokus pada analisis konten, logika algoritma, dan etika digital. -
Pelatihan Duta Ideologi Digital
Merekrut dan melatih mahasiswa serta pelajar sebagai duta yang mampu memproduksi konten kreatif (video pendek, infografis, podcast) bertema Pancasila, toleransi, dan kebinekaan. -
Kolaborasi dengan Platform dan Komunitas
Membangun kerja sama antara pemerintah, kampus, dan platform media sosial untuk memperkuat moderasi konten, sekaligus mengangkat narasi kebangsaan melalui kampanye rutin. -
Pusat Aduan dan Klarifikasi Cepat
Membentuk unit respons cepat di tingkat kampus/daerah untuk memverifikasi hoaks ideologis dan menyediakan konten tandingan yang faktual dan persuasif. -
Riset dan Monitoring Berkala
Akademisi melakukan pemetaan tren ideologi digital, tingkat polarisasi, dan efektivitas program untuk memastikan strategi selalu adaptif.
Indikator Keberhasilan:
-
Penurunan signifikan sebaran konten ekstrem/hoaks ideologis di komunitas sasaran.
-
Peningkatan skor literasi digital-ideologis mahasiswa (melalui survei pra dan pasca program).
-
Bertambahnya jumlah konten kebangsaan yang diproduksi dan menjangkau audiens luas.
-
Terbentuknya jejaring duta ideologi digital di minimal 70% perguruan tinggi mitra.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Ketahanan ideologi di media sosial merupakan benteng penting untuk mencegah disintegrasi bangsa di era digital. Ancaman radikalisme dan polarisasi tidak hanya menggerus nilai Pancasila, tetapi juga berdampak pada stabilitas politik dan kemandirian ekonomi. Melalui Gerakan Literasi Ideologi Digital, ketahanan ideologi dapat diperkuat secara sistematis, partisipatif, dan terukur.
Pemerintah disarankan memperkuat regulasi dan dukungan anggaran bagi literasi ideologi digital. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu aktif menjadi produsen narasi positif, bukan sekadar konsumen. Akademisi berperan penting dalam riset, evaluasi, dan pengembangan model pendidikan ideologi yang relevan dengan dinamika media sosial. Dengan sinergi tersebut, nasionalisme dan Pancasila tidak hanya bertahan, tetapi hidup dan berkembang di ruang digital.

Komentar
Posting Komentar