TUGAS MANDIRI 14
NAMA :
LARISSA AMELIA (E05)
MATA KULIAH :
KEWARGANEGARAAN
TUGAS : MANDIRI 14
Refleksi Integritas dan Kejujuran dalam Kehidupan
Akademik dan Sosial
Menurut Saya, Integritas adalah kemampuan untuk berkata jujur dan konsisten
pada sesuatu yang telah diyakini, meskipun berada dalam situasi yang sulit dan penuh
tekanan. Integritas
bukan hanya perkara kesadaran moral, tetapi juga menaati aturan. Sebagai
mahasiswa, integritas menjadi sangat penting karena masa perkuliahan merupakan
periode pembentukan cara berpikir dan bersikap. Integritas bukan hanya soal
tidak menyontek atau tidak berbohong, tetapi tentang bagaimana seseorang
memandang tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu,
kejujuran bukan hanya aturan akademik, melainkan fondasi moral agar ilmu yang
diperoleh benar-benar memberi manfaat.
Menjaga kejujuran di kampus bukan hal yang mudah, Tekanan untuk mendapatkan
nilai tinggi, tuntutan tugas yang menumpuk, dan pengaruh teman juga sering kali
menghadirkan dilema. Plagiarisme, titip absen, atau bekerja sama saat ujian
kadang dianggap sebagai hal wajar, bahkan sebagai bentuk “solidaritas”. Ketika
integritas diabaikan di dunia pendidikan, dampaknya tidak hanya berhenti pada
pelanggaran aturan, tetapi juga membentuk pola pikir yang salah. Jika kebiasaan
ini terus berlanjut, kampus berisiko melahirkan lulusan yang cerdas secara
intelektual tetapi rapuh secara moral. Tanpa integritas, kepercayaan akan
runtuh, baik terhadap institusi pendidikan maupun terhadap para lulusannya
Dalam konteks masyarakat, integritas sering kali terasa lebih sulit untuk ditegakkan.
Realita menunjukkan bahwa ketidakjujuran kerap dianggap sebagai hal yang biasa
terjadi. Korupsi tidak jarang dipersepsikan sebagai “budaya” yang sulit
diberantas karena telah mengakar dalam sistem dan relasi kekuasaan. Selain itu,
perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru berupa maraknya
hoaks dan manipulasi opini publik.Dalam situasi seperti ini, integritas menjadi
mahal karena sering kali bertentangan dengan arus mayoritas, kepentingan
pragmatis, dan mentalitas instan
Sulitnya menegakkan integritas di masyarakat juga dipengaruhi oleh lemahnya
keteladanan dan penegakan hukum. Ketika masyarakat menyaksikan tokoh publik
yang melanggar etika namun tidak mendapatkan konsekuensi setimpal, muncul
krisis kepercayaan dan normalisasi penyimpangan. Kejujuran tidak lagi dipandang
sebagai nilai utama, melainkan sebagai pilihan yang dianggap naif. Padahal,
tanpa integritas, kehidupan bermasyarakat akan kehilangan fondasi kepercayaan.
Hubungan sosial menjadi rapuh, institusi kehilangan legitimasi, dan hukum tidak
lagi dipandang sebagai instrumen keadilan, melainkan sekadar alat kekuasaan.
Menyadari tantangan tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa
menjaga integritas setelah lulus dan memasuki dunia kerja harus dilakukan
secara sadar dan terencana. Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah
menjadikan kejujuran sebagai prinsip kerja, baik dalam hal pelaporan,
penggunaan data, maupun dalam membangun relasi profesional. Saya ingin
membiasakan diri bekerja secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,
karena kepercayaan adalah modal utama dalam dunia kerja. Selain itu, saya
berkomitmen untuk terus melakukan refleksi diri agar tidak terjebak dalam
rutinitas yang perlahan mengikis kepekaan moral.
Setelahnya saya akan berani bersikap tegas ketika
berhadapan dengan praktik yang menyimpang, karna menjaga integritas tidak
selalu mudah dan sering kali menempatkan kita pada posisi yang tidak nyaman.
Namun, saya percaya bahwa keberanian moral merupakan bagian penting dalam
kehidupan. Saya juga akan terus meningkatkan kompetensi diri agar tidak tergoda
untuk menggunakan cara yang tidak jujur untuk menutupi ketidakmampuan.
Sebagai penutup, integritas dan kejujuran bukanlah nilai yang hadir secara otomatis, tetapi dibentuk melalui proses panjang dan pilihan-pilihan kecil yang konsisten. Kehidupan kampus merupakan ruang latihan yang penting untuk menanamkan kebiasaan tersebut. Tantangan integritas di masyarakat seharusnya tidak menjadi alasan untuk bersikap apatis, melainkan dorongan untuk memulai dari diri sendiri. Saya meyakini bahwa meskipun kontribusi individu tampak sederhana, komitmen terhadap kejujuran akan membentuk karakter yang kokoh. Dengan menjadikan integritas sebagai prinsip hidup, saya berharap dapat menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga dapat dipercaya dan bertanggung jawab.

Komentar
Posting Komentar