TUGAS MANDIRI 10

 

NAMA : LARISSA AMELIA (E05)

MATA KULIAH : KEWARGANEGARAAN

TUGAS : MANDIRI 10

 

Pendahuluan

Wawasan Nusantara merupakan cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dengan menekankan persatuan wilayah serta kesatuan bangsa. Konsepsi ini lahir dari kesadaran geopolitik bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa, namun tetap dipersatukan oleh tujuan nasional yang sama. Dalam konteks ini, Wawasan Nusantara bukan sekadar doktrin kewilayahan, melainkan strategi nasional untuk menjaga integrasi, identitas, dan ketahanan bangsa.

Di era globalisasi, arus informasi, ekonomi, dan budaya bergerak tanpa batas. Produk asing, ideologi baru, serta gaya hidup global masuk dengan cepat melalui teknologi digital dan perdagangan bebas. Pada saat yang sama, Indonesia dihadapkan pada realitas keberagaman budaya yang kompleks, yang dapat menjadi kekuatan besar tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik apabila tidak dikelola secara bijak. Oleh karena itu, esai ini berpendapat bahwa Wawasan Nusantara sangat penting sebagai filter ideologis dan integrator sosial-budaya, agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang globalisasi tanpa kehilangan jati diri, sekaligus mengelola keberagaman sebagai modal persatuan nasional.


Wawasan Nusantara dan Tantangan Globalisasi

Globalisasi membawa dampak ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, globalisasi membuka peluang besar dalam bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, dan diplomasi internasional. Akses terhadap pasar global mendorong pertumbuhan industri, investasi, serta inovasi. Informasi yang cepat memungkinkan masyarakat memperoleh pengetahuan lintas negara dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, di sisi lain, globalisasi juga menghadirkan ancaman serius terhadap identitas nasional dan ideologi Pancasila. Masuknya budaya asing tanpa filter dapat memicu gaya hidup konsumtif, individualisme ekstrem, dan lunturnya nilai gotong royong. Selain itu, persaingan ekonomi global berpotensi memperlebar kesenjangan sosial apabila negara tidak memiliki strategi yang berpihak pada kepentingan nasional.

Dalam konteks ini, Wawasan Nusantara berfungsi sebagai filter ideologis dan arah strategis. Prinsip Kesatuan Politik menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki orientasi politik nasional yang berdaulat, tidak mudah terpengaruh kepentingan asing, dan tetap berlandaskan Pancasila. Artinya, keterbukaan terhadap dunia internasional harus tetap disertai kontrol terhadap ideologi, informasi, dan kebijakan publik. Sementara itu, prinsip Kesatuan Ekonomi memandang seluruh wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan potensi ekonomi. Globalisasi tidak boleh menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar, tetapi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional, meningkatkan daya saing produk lokal, dan mendorong pemerataan pembangunan.

Secara reflektif, Wawasan Nusantara dapat menjadi pedoman baik bagi negara maupun individu. Bagi negara, misalnya, kebijakan hilirisasi sumber daya alam dan penguatan industri nasional mencerminkan upaya memanfaatkan pasar global tanpa mengorbankan kepentingan bangsa. Bagi individu, khususnya generasi muda, Wawasan Nusantara dapat tercermin dalam sikap selektif terhadap tren global: menggunakan teknologi asing untuk produktivitas dan pendidikan, tetapi tetap melestarikan bahasa Indonesia, menghargai produk lokal, dan memegang nilai etika Pancasila. Dengan demikian, globalisasi tidak diposisikan sebagai ancaman mutlak, melainkan sebagai arena kompetisi yang harus dihadapi dengan identitas dan visi kebangsaan yang kuat.


Wawasan Nusantara dan Kekuatan Keberagaman Budaya

Indonesia merupakan bangsa yang hidup dalam realitas Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan adalah fakta sosial yang melekat dan tidak dapat dihindari. Keberagaman ini sesungguhnya merupakan kekayaan nasional, karena melahirkan pluralitas perspektif, kreativitas budaya, dan daya lenting sosial. Namun, tanpa kesadaran kebangsaan yang kuat, perbedaan dapat dimanipulasi menjadi konflik identitas, politik sektarian, dan disintegrasi.

Wawasan Nusantara berperan sebagai integrator sosial-budaya, khususnya melalui prinsip Kesatuan Sosial-Budaya. Prinsip ini menegaskan bahwa seluruh kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia. Tidak ada budaya yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan semuanya memiliki kedudukan setara sebagai unsur pembentuk identitas bangsa. Di sinilah Asas Wawasan Nusantara—seperti solidaritas, keadilan, dan kepentingan yang sama—menjadi kunci dalam mengelola perbedaan. Solidaritas menumbuhkan empati lintas identitas, keadilan menjamin tidak adanya diskriminasi struktural, dan kepentingan yang sama menegaskan bahwa seluruh kelompok terikat oleh tujuan nasional.

Dalam praktiknya, Wawasan Nusantara mendorong agar keberagaman tidak hanya ditoleransi, tetapi dirawat sebagai modal kekuatan nasional. Pengembangan pendidikan multikultural, perlindungan hukum terhadap minoritas, serta promosi budaya daerah di tingkat nasional dan global merupakan wujud konkret dari integrasi sosial-budaya. Dengan pendekatan ini, perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai energi sosial untuk memperkaya kehidupan berbangsa.

Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam mengaktualisasikan Wawasan Nusantara. Di lingkungan kampus, mahasiswa dapat membangun ruang dialog lintas budaya, menolak ujaran kebencian, dan mengembangkan kegiatan yang menumbuhkan solidaritas sosial. Dalam masyarakat, mahasiswa dapat berkontribusi melalui pengabdian, edukasi digital, dan gerakan sosial yang mempromosikan toleransi dan persatuan. Sikap kritis, terbuka, namun berakar pada nilai kebangsaan menjadi modal utama mahasiswa untuk menjaga keharmonisan multikultural Indonesia.


Penutup

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Wawasan Nusantara memiliki relevansi yang sangat kuat dalam menghadapi dua tantangan utama bangsa Indonesia saat ini, yaitu globalisasi dan keberagaman budaya. Globalisasi menuntut bangsa Indonesia untuk terbuka, adaptif, dan kompetitif, namun tetap berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Sementara itu, keberagaman budaya menuntut adanya cara pandang integratif agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik, melainkan menjadi sumber kekuatan nasional.

Wawasan Nusantara, dengan prinsip kesatuan politik, ekonomi, dan sosial-budaya, merupakan konsepsi vital yang menjaga keseimbangan antara keterbukaan global dan keteguhan identitas bangsa. Ke depan, keberlanjutan Indonesia sebagai negara bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan generasinya dalam menginternalisasi dan mengaktualisasikan Wawasan Nusantara. Secara pribadi, saya memandang penting untuk memulai dari hal-hal sederhana: bersikap selektif terhadap pengaruh global, menghargai keberagaman di sekitar, serta aktif membangun ruang persatuan. Komitmen inilah yang menjadi bentuk nyata penerapan Wawasan Nusantara dalam kehidupan sehari-hari.

 

Komentar

Postingan Populer